Day Five

Hari kelima…

Pagi ini diawali dengan berita meninggalnya seorang legenda penyanyi lagu Jawa. Lord Didi Kempot. Sontak hari ini semua lini masa menayangkan topik yang sama. In memoriam Didi Kempot. Lagu beliau pun terdengar berulang ulang di layar kaca. Petikan wawancara lama di tayangkan kembali dalam snapshot snapshot. Kerabat dan sahabat dekat diburu untuk di interview.

Bagi orang Jawa, lagu lagu Lord Didi Kempot ini terasa gampang dicerna selain karena bahasanya juga karena tema tema nya yang sangat akrab dengan realita sehari hari. Liriknya pun ngga pake rumus jaim dan apa adanya. Didi Kempot sendiri sebenarnya sudah sangat lama berkiprah di blantika (BLANTIKA gaes :)) industri musik di Indonesia. Tapi pancaran cahaya ketenarannya semakin bersinar menyilaukan beberapa tahun belakangan ini.

Dan yang menurut saya agak anomali, justru mereka anak anak muda yang menggandrungi lagu lagu Didi Kempot akhir akhir ini. Padahal beberapa dekade silam, saat lagu lagu campursari mulai mencuat ke permukaan, penikmatnya kebanyakan adalah para generasi paro baya. Lagu berbahasa Jawa kala itu jarang menarik minat anak muda. Dianggap kuno dan tiada trendy 😁.

Sebelum ini, kita baru saja kehilangan Glenn Fredly. Genre berbeda, rasa kehilangan yang sama. Dua duanya sama sama mengejutkan banyak orang. Dua duanya masih relatif muda dan tidak ada tanda tanda sakit sebelumnya. Dua duanya punya basis fans yang cukup besar. Industri musik Indonesia benar benar sedang berduka. Bagaimana tidak? Dimasa pandemi ini hampir tidak mungkin mengadakan konser berbasis pengumpulan massa. Para pelaku industri musik mau tidak mau harus mencari akal untuk mempertahankan eksistensi dan lebih penting lagi untuk mempertahankan periuk nasi.

Entah bagaimana nanti situasi dan dinamika para Sobat Ambyar pasca kepergian The Godfather Of Broken Heart. Akankah ada penerus yang se kharismatik beliau? Akankah setelah ini akan ada penampakan hilal munculnya Lord Of Sambat yang baru?