The Fault In Our Stars


Ada yang pernah baca novel John Green yang ini? Novel bagus tapi sedih…:'(

 

The Fault In Our Stars ini  adalah judul novel yang bercerita tentang kisah cinta dua sejoli remaja bernama Hazel dan Gus.Kisah cinta yang menyedihkan. Sebuah novel bagus yang akan dibenci para penyuka happy ending. Seperti saya….hiks..hiks..hiks… :'(

 
 
 
 

Sebenarnya saya membaca novel ini hampir setahun yang lalu. But, as i  told you before, when i found a good song, movie or book, the memory will last for a long time. Dan buku ini adalah salah satu buku yang msh terngiang2 di hati saya. Salah satu buku John Green yang membuat saya masih belum berani membaca buku2 John Green yang lain. Takut patah hati. Takut kecewa. Takut kalau2 buku2 John Green yang lain tidak sebagus buku ini.


Apa sih istimewanya buku ini…

Wah klo itu relatip ya…tergantung selera. Karena saya adalah pengidap Romance Addict stadium empat, maka buku ini adalah salah satu buku yang istimewah buat saya. Kisah cinta, walaupun berakhir sedih tetaplah sebuah kisah cinta. Rite??


Walaupun saya sudah khatam membaca buku ini setahun lalu, janganlah berasumsi bahwa saya mempunyai buku ini dalam koleksi buku2 saya. Karena ketahuilah wahai sodara2, meskipun menyangkut hal yang sangat mengasyikkan seperti buku, tapi saya tetap selalu memegang teguh prinsip hidup saya sejak saya masih esempe. Tepatnya sejak saya menemukan sebuah institusi bernama perpustakaan umum.Perpustakaanlah yang membuat saya berprinsip bahwa untuk menikmati buku bagus itu tidaklah harus mengeluarkan uang…:p

Kini, bertahun2 kemudian, setelah melewati berbagai macam tren kekini2an,prinsip itu saya perbarui menjadi : membaca buku bagus tidak harus keluar uang, dan tidak harus repot ke perpustakaan…:D Semua itu berkat sebuah teknologi bernama ebook reader. Terimakasih yang sebesar2nya kepada mereka yang telah menemukan teknologi ebook reader ini. Kini saya bisa baca buku, cukup dengan memelototi hape saya yang kata penjualnya adalah hape pintar. Lebih pintar dari pemakainya…:)

Back to the topic, jadi ceritanya pas hunting donlotan ebook gratis, saya nemuin buku ini diantara beberapa buku yang lain. Awalnya saya rada pesimis juga, apa iya bisa khatam baca buku ini. Secara, aplikasi pocketbook di hape pintar saya ternyata tampilannya kuecil2 banget hurupnya. Walhasil mata saya pun harus bekerja extra keras saat membaca buku ini. Kalau istilah kerennya sih sampe “matane jemblek” gitu..

Udah gitu saya dapetnya juga yang versi bahasa asli bukan terjemahan. Jadinya selain organ tubuh bagian mata, otak sayapun ikut bekerja extra keras juga.Yah kira2 istilah bahasa Jermannya sampe “pecas ndahe”=D

Akan tetapi sodara2, kejemblekan mata saya itu terbayar dengan kepuasan membaca cerita cinta yang sedih ini. Cerita cinta antara Hazel Grace dan Augustus Waters yg juga sdh dibuat fersi vilmnya(eh kebalik ya…).Diversi layar lebarnya sodara2, si Hazel ini diperankan oleh Shailene Woodley dan Gus diperankan oleh Ansel Elgort..(uhuk2..namanya agak bikin keselek ngejanya yach..)

Ngga tau saya yang kurang update ato gimana, tapi kayaknya film ini ngga masuk ke Indonesia deh. Saya sih kurang begitu antusias ya, klo ada buku yang akhirnya difilmkan gitu. Karena bagi saya versi buku itu 1000% lebih bagus karena kita bisa berimajinasi lebih bebas tentang tokoh dan setting yang ada di buku itu. However, sepertinya si Shailene sama Ansel ini cukup okelah. Ansel Elgort ini aktor cowok yang tipe wajahnya model2 wajah yang bisa bikin cewek abege kejang2 gitu…:D Sedangkan Shailene Woodley yang aslinya adalah tipe bad girl tapi di film ini bisa pas memerankan Hazel yang introvert dan ngga suka gaul.

Dari sekian banyak adegan dalam film ini, favorit saya adalah saat Gus mo ngajak Hazel ngedate. Saat itu Gus mengeluarkan rokok seakan2 mau ngerokok gitu. Trus si Hazel kontan aja marah2 yang kalo diterjemahkan kira2 gini..

“ini anak songong ato apa sih,udah tau gue napas aja pake selang sama kemana2 dorong tabung gas melon eh tabung oksigen gini kok masih berani2nya ngerokok depan gue sih. Gue ini sakit paru2 mas. Pa-ru-pa-ru!!!”

Nah…hbs itu si Gus ngejelasin klo dia pasang rokok di mulut itu cuma sebagai metafor aja. That he just put the cigarette but never lit one. Lihat deh gestur si Gus waktu dia ngomong. Ousem abis bukan??? =))

Jadi ceritanya Hazel dan Augustus (Gus) ini adalah 2 remaja belasan tahun yang mengidap penyakit kanker. Keduanya bertemu saat mengikuti sesi pertemuan supporting group untuk para pengidap kanker. Awalnya Gus cuman nemenin temennya Isaac yang mengidap kanker mata. But,since the first time he lays his eyes on Hazel,dia jadi rajin ikut sesi di supporting grup ini.

 
 

Gus, langsung jatuh hati saat pertama kali melihat si Hazel <3<3. Hazel ini, yang karena penyakitnya, kemana2 harus pakai selang hidung dan menarik tabung gas oksigen yang dimasukkan ke dalam tas beroda(kebayang kan rempongnya). Gus sendiri karena penyakitnya,kakinya harus diamputasi sebelah. Padahal doi adalah mantan pemain basket berbakat disekolah.

 


Sebagai penderita kanker stadium akhir dan sama2 pernah mengalami  life and death experience, Hazel and Gus langsung clicked satu sama lain. Share the same bitternes and sarcasm. Walapun basicly karakter Hazel ini adalah gadis yang introvert dan susah bergaul sama teman sebaya. Hazel merasa bahwa dia adalah layaknya sebuah “granat” yang bisa meledak sewaktu waktu dan melukai orang2 disekitarnya. Sedangkan Gus adalah karakter pemuda tampan dan periang.Disamping mereka berdua ada tokoh bernama Isaac,teman Gus yg menderita kanker mata.

Bertiga mereka menjalani pengalaman2 yg kadang2 sedih tp juga banyak lucunya.Dan karena situasi hidup dan segala keterbatasan karena penyakit yang mereka derita,maka meski masih remaja,tapi kadang2 pemikiran mereka daleeeemmm banget. 




Seperti saya juga,(hadeuh..tepokjidat)si Hazel ini juga punya sebuah buku favorit yg sangat mempengaruhi hidupnya. Judulnya An Imperial Affliction yg ditulis oleh seorang pengarang Belanda bernama Van Houten.Dan si Hazel ini sangat terobsesi dg buku ini hingga dia bercita2 utk bertemu lsg dg sang pengarang. Menurutnya banyak hal dalam buku An Imperial Affliction yang masih menggantung dan butuh penjelasan. Berkali2 dia mengirim surat kepada sang pengarang tapi ngga ada balasan.

 

Nah luckily di Amerika sono noh, ada yayasan charity yg khusus membuat program untuk mengabulkan permintaan terakhir org2 berpenyakit kanker stadium akhir dan sdh divonis mati. Dan Hazel sama Gus termasuk mereka yang terdaftar di program ini. Sayangnya punya Hazel sdh digunakan saat Hazel divonis cuma bisa bertahan hidup bbpr bulan saat dia berumur 13 tahun. Miraculously si Hazel ini bisa bertahan hidup bertahun tahun kemudian. Sampai dia akhirnya ketemu Gus. Dan permintaan terakhir Hazel ini yg selalu dijadikan bahan ledekan antara Hazel dan Gus karena waktu itu si Hazel mintanya, piknik ke Disneyland!! Shallow bgt ngga sih..;)


Walaupun mendapat tentangan dari ortunya, Gus akhirnya memutuskan utk memakai permintaan terakhirnya untuk ngajak Hazel jalan2 ke Belanda buat nyari Van Houten sang pengarang An Imperial Affliction. Di Amsterdam Belanda ini mereka mendapatkan pengalaman2 yang ngga mereka kira sebelumnya. Pengalaman2 yang semakin memperkuat bonding mereka dan membuat mereka semakin yakin that they were made for each other…<3<3<3


Satu yang dirahasiakan Gus saat itu yaitu bahwa sebelum mereka berangkat ke Amsterdam ternyata penyakit Gus kambuh lagi. Dan sepulangnya mereka ke Amerika, he’s getting worse and worse…:(


So, Hazel yang semula merasa dia bisa melukai orang2 terdekatnya karena bisa meninggal sewaktu-waktu,justru harus menghadapi kenyataan sebagai orang yang ditinggalkan. Ada satu bagian cerita yang sangat menyentuh yaitu kebiasaan Gus,Hazel dan Isaac saat salah satu merasa sedih maka mereka akan mengadakan semacam upacara pemakaman pura2. Dan each of them wajib memberikan semacam eulogi. Saat Gus berjuang menghadapi masa kritis,Gus meminta Hazel sama Isaac untuk mengadakan upacara pembacaan eulogi buat dia. And that part is just sad man…very very sad…

 

Jadi selama membaca buku ini, saya mengalami beberapa momen sedih nan menyayat hati. Dari mulai tahap berkaca2,mrebes mili sampai fase hampir nyaris menangis tersedu2…

Well..enough crying..

Great book, good movie version, awesome actor and actress,then what we need left is some awesome soundtrack. And it is awesome indeed. Cause salah satu ost film ini dibawakan oleh penyanyi favorit saya selama tahun 2014 dan 2015. A great singer and songwriter…the one and only : ED SHEERAN…

Nah, buat kamu bro and sista yang belum pernah baca buku dan nonton film The Fault in Our Stars ini, saya sarankan baca bukunya dulu deh. Dijamin klo udah baca bukunya pasti penasaran pengen liat filmnya. Saya sih ngga jamin kebalikannya ya…Soalnya kebanyakan orang mikirnya klo udah liat filmnya ngapain juga repot2 baca bukunya. Ya ngga???

Saran saya lagi,usahakan saat baca buku ini ditempat sepi,lebih baik lagi klo lagi pas sendirian. Kan ngga lucu juga klo kalian baca buku ini di pasar apa terminal, dan tiba2 air mata kalian bercucuran bahkan mungkin menangis sesenggukan…;)