Misuh


Hari2 yang suram. Mendung dan mendung. Membuatmu mellow dan kerasukan hasrat untuk melamun. Kepala pun rasanya malas berpikir yang berat2. Praktis beberapa hari ini saya terbebas dari berita seputar orang2 yang biasanya sengaja maupun tidak, saya ikuti kabarnya dengan sukarela lewat media sosial. Tingkah orang2 di medsos yang kadang membuat saya misuh2 dalam hati. Karena misuh langsung dihadapan orangnya tentu saja saya tidak berani wkwkwk… 🙂

Bagi kalian yang masih aktif di facebook, tidakkah kalian terkadang merasakan hal yang sama? Hasrat untuk mentertawakan mereka2 yang tanpa malu2 memperlihatkan rasa insecure mereka, ketidakpercayaan diri mereka atas hidup yang mereka jalani. Atau mereka yang mati2an mencoba meyakinkan orang2,lewat facebook, bahwa hidup merekalah yang paling asik dan bahagia. Ah…tapi tingkah mereka itu juga bisa jadi hiburan ketika kita butuh untuk tertawa. Bukan tawa tergelak seperti ketika kita saya menonton Srimulat diawal2 kemunculan mereka di Indosiar bertahun2 yang lalu. Lebih seperti tertawa geli yang ditandai dengan senyum berhias dengus penuh penilaian. Huh!!!

Yes, i judge people silently in my mind. I can’t help it. Dan jauh di pikiran saya, ada kotak2 imajiner dimana saya menempatkan orang2 yang saya kenal berdasarkan karakter mereka. Berdasarkan penilaian subjektif saya bahwa orang ini adalah tipe X dan orang itu adalah tipe Y. Tidak kah kalian juga melakukan hal yang sama? Dan sungguh tipe orang yang saya paling tidak tahan adalah mereka yang berselera humor menyedihkan dan terlalu fokus pada diri sendiri. Mereka yang entah mengapa selalu meluncurkan lelucon yang tidak lucu tapi pasti selalu disertai tawa yang kadang membuat kita tidak enak untuk tidak balas tertawa. Mereka yang terus menerus bercerita tentang diri mereka padahal mata kita sudah memperlihatkan rasa bosan dan senyum kita adalah senyum terpaksa.

And yes, i do have that kind of friend. Dan terkadang mereka ini bisa sangat melelahkan secara emosional. Mereka adalah tipe teman yang over value themselves. Yang kadang sangat yakin sedang menolong atau memberi nasihat yang sangat berguna padahal sebenarnya mereka hanya sedang memuaskan hasrat mereka terhadap perasaan bahwa mereka lebih tinggi dan lebih sempurna hidupnya sehingga bisa “menolong” dan “memberi nasihat”.

And yes, saat ini saya memang sedang ingin misuh. Tapi misuh yang panjang lebar. Karena misuh saya saat ini tidak bisa hanya diwakili dengan kata2 kotor atau penyebutan nama2 hewan. Karena misuh yang seperti itu terlalu singkat dan terlalu mainstream. Sedangkan saat ini saya ingin berlama2 menikmati momen misuh2 versi saya. Yang disebabkan oleh perasaan jengkel yang terlambat datang. Perasaan jengkel yang datang saat momen penyebab kejengkelan sudah berlalu dan otak saya terlambat bereaksi untuk mengcounter attack secara cerdas penyebab kejengkelan saya ini. Aaaahh…gemes sekali saya dengan momen itu.

Momen beberapa hari yang lalu itu menyisakan perasaan jengkel yang tak berkesudahan ketika saya mengingatnya kembali. Yang paling parah adalah kenyataan bahwa saya telah melewatkan kesempatan to teach a lesson kepada seseorang yang mungkin saat ini malah sedang berpikir apa yang sudah dilakukannya adalah hal yang mulia. Aaaaarrrggghhhh…betapa menjengkelkan. Mungkin ternyata benar adanya bahwa socialize is really not my thing. Attaching yourself to a community can be so annoying ternyata. Dan mengingat wajah2 puas diri itu membuat saya benar2 ingin misuh2 panjang lebar.

At the end of the day, there always be two kind of three words that bring comfort to me.. 🙂

Saya adalah tipe orang yang kadang dont know what to say ketika ada orang curhat masalah pribadinya. Apalagi kalau sesudahnya dimintai saran apa yang harus mereka lakukan. Berkata bijak bukanlah ranah saya. Dan untunglah tidak banyak orang yang tergoda untuk curhat ke saya. Mungkin bau2 dan aura saya yang memang tidak curhatable banget sehingga orang cenderung tidak menjadikan saya opsi ketika mereka butuh  tempat bercerita dan mencurahkan keresahan hati mereka. Dan bagi saya pribadi, curhat  juga really not my thing. Yang sering membuat saya heran bagaimana kadang seseorang bisa so easily talk about their private matters. Bagaimana kata2 bisa terangkai dengan begitu saja ketika bercerita hal2 yang melibatkan sesuatu yang dalam secara emosional. Itulah mungkin mengapa saya ngga suka curhat dan ngga suka dicurhati. Dan sepanjang pengalaman saya berinteraksi dengan sesama manusia, salah satu hal yang saya bisa ambil hikmahnya adalah : SEMUA ORANG AKAN NGEMBER PADA WAKTUNYA.

Yakin deh..