Ambyar..


Enak rasanya klo pikiran dibiarkan ngelantur kemana2. Njuk rasanya pengen diwujudkan dalam rangkaian katakata. Cuma susahnya (klo buat saya) adalah kadang ketika kita fokus untuk menulis sesuatu, pikiran kita juga jadi fokus. Dan walhasil lanturan pikiran tadi ambyar entah kemana.

Bingung ya bacanya? Apalagi saya yang nulis…wkwkw.

Hari ini saya baru saja mendampingi sekelompok remaja mengikuti sebuah lomba. Dan melihat mereka, wajah2 remaja dari berbagai daerah yang datang sebagai kontingen lomba, saya jadi teringat masa remaja saya. Saya juga jadi ingat kalo saya sudah tak lagi muda. Entah mengapa kadang pikiran dan hati saya mengingkari pertumbuhan fisik saya yang semakin menua. Ketika teman2 sebaya saya mulai menjadi “temuwo” entah karena terpaksa atau sukarela, saya tidak merasakan hal yang sama.

Duluuuuu…saat saya masih muda, dalam pandangan saya, mereka yang berusia 30 tahun keatas rasa2nya kelihatan sudah tua sekali. Sudah “ibu2” bagi yang perempuan dan “bapak2” bagi yang lelaki. Dan entah mengapa saya gagal memandang diri saya sendiri sebagai ibu2 dalam tanda kutip. Usia saya sekarang hampir 40. Yang kadang saya sendiri ngga begitu yakin, apa??? empatpuluh?? Ketika angka itu diucapkan dalam kaitannya dengan jumlah umur, rasa2nya sangat asing. Ketika saya mengasosiasikan usia 40 sebagai umur perempuan lain, dalam bayangan saya otomatis muncul sosok “ibu2”. Tapi menjadi aneh ketika saya melekatkannya sebagai usia saya sendiri. Me?? Forty??

Mungkinkah ini berarti saya gagal menua? Gagal berproses menjadi dewasa? Ataukah ini berarti saya sukses menua secara fisik tapi gagal mendewasa secara emosional? Entahlah…