Nikmat Itu Bernama Facebook


Beberapa hari yang lalu, Bapak saya memberi wejangan tentang makna bersyukur kepada kami, anak2 nya. Tentang bahwa bersyukur tidak hanya sekedar berucap “alhamdulillah” atau berucap “aku wes bersyukur banget lho bla bla bla…”

Bersyukur adalah tentang bagaimana kita menjalani hidup. Bersyukur adalah bagaimana kita dalam keseharian kita. Bersyukur adalah bagaimana kita berinteraksi dengan orang orang disekitar kita. Ketika kau melihat dirimu sendiri, sudah pantaskah kau dianggap bersyukur? Kau bisa saja bilang sangat bersyukur atas hidupmu 100 kali sehari kepada temanmu,lewat media sosial, lewat caption dalam status fesbuk dan postingan fotomu. Dan pertanyaannya masih saja, sudahkah perilakumu mencerminkan rasa syukurmu? Dan ketika pertanyaan itu ditujukan pada saya, jawabannya adalah : Belanda masih jauh kawan….

Bicara pengalaman hidup dan kedalaman pemahaman tentang hidup, jika dibandingkan antara saya dan Bapak, adalah bagaikan membandingkan sebutir beras dengan sekarung beras ukuran satu kuintal. Tidak ada apa apanya.

Sebagai manusia, empat puluh tahun menjalani hidup, saya merasa bagai sebuah jalan aspal setengah jadi yang berkali2 dihantam truk tronton bermuatan pasir dan batu. Brocel2, kasar, penuh lubang. Jauh dari sempurna…ratusan juta kilometer jarak cahaya dari sempurna.

Jika ada kontes tentang role model bagaimana dalam menjalani hidup yang baik dan tidak baik, sudah pasti saya akan masuk kategori yang terakhir.

Sejak beberapa tahun terakhir, saya menjalani hidup dengan kesadaran bahwa saya hanyalah jalan aspal setengah jadi yang dihantam truk tronton tadi. Pengalaman hidup membuat saya kadang bereaksi tidak “sewajarnya” atas tindakan orang orang disekitar saya. Pengalaman hidup juga membuat saya lebih cermat mengamati perilaku orang orang di sekitar saya. And believe me, some of them are really unbelievable.

Di tengah tengah wejangannya, Bapak juga mengutip kata2 masyhur Ronggowarsito : “sak bejo bejone wong kang lali, iseh bejo wong kang eling lan waspodho”

Yang saya pahami sebagai : bahwa sebagai manusia we must stay humble. Tawadhu’. Pelajaran agama yang diajarkan sejak kita masih esde. Saya memahaminya sebagai bahwa apa yang kita miliki hari ini, prestasi dan pencapaian kita hari ini, bukan semata mata karena kelebihan kita, tapi karena seijinNya. Detik ini kita begitu percaya diri memamerkan kelebihan2 kita, and the next second Allah can take it away from you. Just like that..

Menjadi humble dan bersikap tawadhu’ di era media sosial seperti sekarang adalah sebuah tantangan. Godaan untuk selalu memamerkan kelebihan dan pencapaian kita,material maupun non material, terlalu besar. Media untuk menyalurkan nafsu show off terlalu banyak. And i too..still had alot to learn about that.

Dengan beranjaknya usia, dengan beragam hantaman pengalaman hidup, kadang saya tetap merasa masih mentah. Masih sering merasa herman kecampuran sedikit rasa minder melihat teman, kenalan atau bahkan orang yang hanya kau baca lewat media massa, bisa sangat yakin dalam menjalani hidup. Begitu percaya diri, super confident, bahkan dengan sukarela mengekspose diri sendiri dan kehidupan mereka untuk konsumsi publik. Seakan akan yang mereka miliki sekarang adalah abadi.

Facebook adalah contoh paling dekat dan mudah. Saya tidak punya aplikasi fb, saya terlalu ngeman2 memori hape saya. Masih banyak aplikasi lain yang menurut saya lebih menarik dan berfaedah. Ketika kadang kadang saya membuka facebook lewat browser untuk mengecek notifikasi terkini, ternyata isinya pun hanya itu itu saja. Etalase kehidupan pribadi teman teman saya. Teman teman, yang terakhir saya cek berjumlah limaratus sekian. Dan tahukah anda? Bahwa menutup akun facebook tidak semudah membalik telapak tangan?

Facebook yang menurut saya telah terdegradasi menjadi sekedar media etalase kehidupan pribadi dan penyebaran hoax campur hate speech.

Saya bukan tipe orang yang akan berkata manis dan indah to gain people’s compliment. Instead, i will curse them, to gain their approval…. 😀 😀 😀