LGBT


Memantau timeline di medsos, kadang membuat saya ingin misuh2. Membuat saya suka jengkel karepe dewe. Membuat kadang saya berpikir, orang indonesia ini kok sebegininya sih?

Kemaren di timeline salah satu WAG saya, seseorang memposting “artikel” yang “katanya” dari seorang dokter ahli saraf di sebuah rs terkemuka di ibukota. Postingan itu berupa peringatan tentang bahaya penularan LGBT. Sounds familiar??

Dan tentu saja dengan tipikal brodkesan WAG utk konsumsi orang indonesia, yaitu dengan pilihan bahasa yang bombastis, cenderung menakut2i, yang biasa laku di grup2 wasap gitu. Yang membuat saya heran adalah isi tulisan dan diksi, tidak mencerminkan bahwa itu ditulis oleh seorang dokter ahli saraf!! Dari rs terkemuka!!

Yang saya tangkap dari artikel tersebut adalah luapan kebencian sang dokter kepada mereka yang berperilaku seks tidak seumumnya. Yang seharusnya ketika dia mengemukakan pendapat dengan konteks dia sebagai dokter, seyogianyalah bersikap netral dan melihat dari sudut pandang medis. Tidak seharusnya seorang dokter mengungkapkan, untuk konsumsi publik, bahwa dia merasa jijik dengan pasiennya. Apapun keadaannya. Lebih keterlaluan lagi ketika dia mengatakan bahwa dia ingin memberikan dosis obat tertentu kepada orang yang dibencinya agar dia mati saja!! Dokter macam apa itu???

Saya kira tidak seorangpun di dunia yg berkeinginan suatu hari anaknya menjadi LGBT. Dan saya setuju seratus persen, bahwa itu adalah suatu masalah serius yang kita harus sikapi, waspadai dan tidak bisa kita abaikan.

TAPI…

Kita tidak kemudian harus merendahkan kemampuan otak kita, sehingga kita terjerumus menyebarkan artikel2 yang tidak jelas, tidak cetho, hanya karena terpikat oleh kata2 bombastis penuh ancaman di dalamnya. We can be way more smart than that.

Saya kira sebenarnya otak kita cukup cerdas untuk memfilter, dari awal, hanya dengan melihat gaya penulisan, serta pilihan kata, untuk menentukan apakah cukup bijaksana menshare suatu artikel atau cukup untuk menjadi pengetahuan diri kita sendiri.

Tidakkah orang2 yang so easily share something yang isinya penuh nada kebencian, ancaman kekerasan itu tidak berpikir akibat2 yang bisa ditimbulkan hanya gara2 dia tidak bisa mengendalikan jempolnya?

Bagaimana jika, karena seseorang membaca artikel tersebut kemudian melakukan tindakan kekerasan kepada orang yang tidak bersalah hanya karena dia mengira bahwa seseorang itu adalah LGBT, dan bermaksud menggoda dia? Bagaimana jika kejadian itu bisa mengakibatkan kematian seseorang?

Dan tidakkan dia pernah terpikir bahwa kita tidak bisa menggeneralisasi, menggebyah uyah, bahwa semua LGBT itu adalah jahat? Tidakkah dia berpikir bahwa kehidupan orang perorang itu sedemikian beragam dan kompleksnya sehingga mungkin ada hal2 diluar kehendak seseorang sehingga dia menjadi LGBT? Tidakkah dia berpikir bahwa diantara para pelaku LGBT itu ada beberapa yang sebenarnya tersiksa dan hidup menderita, tapi hidup dan kehidupan membuatnya tidak berdaya???

Kita diajarkan untuk membenci perbuatan, bukan orangnya. Tapi apakah itu tercermin dari saran sang dokter bahwa pelaku LGBT sebaiknya dipukuli beramai ramai saja. Sungguh heran saya. Ini dokter lho. Profesi terhormat. Tidak semua orang bisa menjadi dokter.

Tidakkah cukup kekerasan dan kebodohan di kehidupan sehari hari kita, sehingga kita merelakan diri diracuni melalui brodkes di wasap? Aplikasi percakapan sejuta umat?