Perihal Remeh Temeh Antara Simbok, Bunda dan Mami


Perihal panggil memanggil ibu kita masing masing ini sebenarnya sederhana saja. Tapi tentu saja banyak orang selo yang merasa perlu mengotak atik dan menganalisis hal sepele ini. Termasuk saya yang super selo ini sampai sempat sempatnya membahas ke selo an orang orang selo tersebut…😄

Jadi begini saudara saudara…

Beberapa waktu yang lalu, saya sempet dibuat tercengang dan terhenyak (ceilee…terhenyak saudara saudara! 😄 ). Demi melihat sebuah postingan disebuah status wa dan fesbuk. Postingan itu berupa gambar dan narasi tentang makna dibalik panggilan seorang anak kepada ibunya. Yang tentu saja di Indonesia kita tercinta ini begitu banyak macamnya, dari Sabang sampai Merauke. Gambar tersebut ternyata telah lama beredar di beberapa media sosial terutama media sosial sejuta umat yaitu fesbuk. Dan ternyata saya aja yang kurang apdet jadi baru tahu sekarang sekarang ini 😅.

Kemudian sebagai seorang pengamat media sosial amatiran dan kurang kerjaan, mulailah saya melakukan riset kecil kecilan. Dan ternyata ada beberapa blogger terutama emak emak yang telah membahas hal ini di blognya dengan beragam sudut pandang dan analisis.

Kenapa saya juga ikut ikutan membahas hal ini? Tidak lain tidak bukan hanyalah karena saya orangnya memang kurang bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal hal yang tidak penting dan nir faedah…. 😄🤣

Akan tetapi saudara saudara….

Selain alasan tersebut diatas, menurut hemat saya yang sebenarnya cukup boros dikehidupan nyata ini, narasi tersebut memang lumayan ngawur dan ngasal serta tidak didukung bukti bukti empiris serta data data yang valid. Yang lebih membuat saya tidak bisa menahan diri untuk membahas hal ini adalah, kok ya yang ngeshare itu adalah orang orang terpelajar. Yang dengan enteng dan tanpa kritisi sama sekali, memposting gambar tersebut seakan akan mereka setuju dan menganggap narasi tersebut sah sah saja.

Jadi kenapa saya bilang ngawur dan ngasal ? Mari kita lihat dahulu gambar tersebut dimaksud. Yuks mari…

Sudah? Apa pendapat anda?

Pendapat saya tetaplah bahwa postingan tersebut diatas adalah ngawur dan asal njeplak. Kenapa ? Karena….

Panggilan apapun seseorang kepada ibunya, salah satu faktornya tidak terlepas dari identitas etnis dan geografis yang bersangkutan. Jika di Papua sana semua balita memanggil ibunya dengan sebutan Mama, apakah bisa disimpulkan bahwa semua perempuan Papua adalah posesif terhadap anaknya?

Bagaimana dengan panggilan simbok, biyung, enyak, dan lain sebagainya? Apakah panggilan panggilan tersebut tidak signifikan dan mungkin dirasa tidak sophisticated sehingga tidak layak masuk dalam kategori analisis? Helloooo….saya yang dari kecil memanggil ibu saya dengan sebutan Mbok’e jadi merasa tidak eksis diranah penggolongan tipe tipe pemanggilan ibu ini..😕

Saya sebenarnya tidak habis pikir bagaimana perbedaan panggilan ibu bisa berpengaruh terhadap perlakuan ibu kepada anaknya dan sebaliknya?

Di jaman saya masih kecil, panggilan ibu ini lebih terkait dengan kasta sosial dan ekonomi.  Dan sepertinya masih lumayan berlaku di saat sekarang ini meskipun tidak setajam dulu. Dilingkungan saya misalnya. Keluarga dengan latar belakang sosial dan ekonomi dibawah rata rata, biasanya akan digunjing jika membiasakan anak untuk memanggil ibunya dengan sebutan mama atau mami. Karena dianggap tidak sesuai dengan “kastanya”. Nggak percaya? Berarti anda termasuk orang orang yang gagal memahami situasi pergerakan ghibah dan gosip dikalangan emak emak di lingkungan anda..wkwkwk 😝🤣

Panggilan yang umum untuk masyarakat golongan menengah kebawah saat saya masih kecil adalah ibu, emak dan simbok. Panggilan simbok  dan emak ini sekarang hampir punah karena sering diasosiasikan sebagai panggilan ndeso dan identik dengan kemiskinan. Orang umumnya akan merasa tidak pede jika memanggil ibunya dengan panggilan simbok. Apalagi jika dia sudah berhijrah dan tidak lagi tinggal di tanah kelahiran. Panggilan simbok sekarang mungkin tinggal dipakai oleh anak anak kelahiran tahun 70an kebawah (seperti saya 😊) dan saya prediksi akan punah di masa 20 tahunan mendatang. So, im proud to be one of few people who still calling their mother as Simbok/Mbok’e ☺.

Di sekitar awal awal tahun 2000an keatas, mulai mewabah sebuah panggilan baru yaitu bunda. Sumpah, dulu waktu saya masih kecil ngga ada sama sekali anak yang memanggil ibunya dengan sebutan bunda. Yang manggil mama ada, mami ada, mak’e dan mbok’e banyak, ibu juga umum dipake. Tapi panggilan bunda itu sama sekali NGGAK ADA!

Kemudian entah saya lupa tahun berapa, saya ingat waktu itu pas ada pertemuan pkk apa dasawisma…tiba tiba saya mendengar ada anak balita tetangga, yang kebetulan memang dari keluarga berada, memanggil ibunya dengan sebutan bunda. Dan jujur, waktu itu saya merasa aneh aja. Sebutan bunda bagi saya waktu itu begitu….mmmm…..so not down to earth banget. Tapi sekarang saat panggilan itu sudah menjadi panggilan yang umum digunakan, lama lama kuping saya jadi terbiasa juga..👂😋

Kemudian ada juga panggilan umi, walaupun tidak umum dilingkungan kami, setidaknya waktu itu saya pernah tahu dan mendengar kalau tidak dari buku bacaan, ya dari tivi dan koran. Dan sepengetahuan saya waktu itu panggilan umi hanya digunakan oleh keluarga keluarga dengan latar belakang musliiiiiiiiiiiiiiiimmmmmmm banget. Atau keturunan Arab lah paling tidak. Bukan seperti kami yang hanya dari keluarga berpengatahuan agama biasa biasa aja. Yang dulu waktu kecil, saat orang belum mengenal macam macam istilah fashion seperti hijab syar’i dan gamis syar’i, ibu ibu sepert Simbok saya kemana mana pakainya hanya jarik dan kebaya tanpa jilbab. Kerudung pun hanya kerudung yang disampir diatas rambut yang digelung. Pasti akan sangat nganeh nganehi dan menjadi obyek ghibah yang tiada habisnya jika waktu itu saya dan kakak kakak saya memanggil Simbok saya dengan sebutan umi…😅

Adalah hak semua keluarga apakah mereka ingin memakai sebutan mamah, mami, bunda, umi, atau bahkan mimi dan pipi atau memo dan pepo. Saya bahkan dulu punya teman sebaya yang memanggil ibunya dengan sebutan Mbak. Meskipun dia tahu persis bahwa beliau adalah ibunya.

Seleksi alam atau mungkin pergerakan roda jaman yang mungkin akan menentukan trend pemakaian macam macam panggilan ibu ini. Siapa tahu di masa anak cucu kita kelak, panggilan panggilan ndeso seperti emak, simbok dan biyung justru menjadi trend dan banyak dipakai semua kalangan.

Akan sangat menarik jika suatu saat kita bisa melihat pemandangan seorang perempuan sosialita, lengkap dengan atribut dan aksesori serba branded, baju desainer ternama yang harganya sama dengan upah buruh pabrik selama setahun, kacamata hitam sebesar tutup kaleng krupuk yang harganya bisa bikin shock para buruh tandur tetangga tetangga saya, tas branded yang harganya bisa untuk beli rumah dan tanah di kampung, sepatu branded luar negeri yang merknya bisa bikin lidah keseleo, keluar dari mobil mewah yang biaya pajaknya saja bisa untuk kasih makan fakir miskin satu kecamatan, kemudian dibelakangnya nginthil anaknya yang teriak teriak ” simbooook….aku ikuuuut….”  🤣🤣🤣🤣🤣