Anak-anakmu Bukanlah Anak-anakmu


Bukan rahasia bahwa being single as woman over 30 is not easy in our culture. Especially javanesse culture. Orang orang cenderung tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya kalimat kalimat klise seperti “kapan iki?” atau “undangannya kapan?” Yang tentu saja bukan merujuk pada undangan ulang tahun atau undangan kenduri wetonan tanggal lahir.

Sepertinya hidup manusia harus,wajib, melewati beberapa fase. Lahir-hidup-menikah-punya-anak,-mati. Lahir-hidup-mati, itu absolut. Menikah dan punya anak adalah pilihan. Walaupun insting dasar manusia pastinya ingin hidup berpasangan dan berketurunan. Tapi saya tahu kehidupan manusia itu beraneka ragam bentuknya. Kita tidak bisa menerapkan standar hidup kita untuk menilai orang lain. Dan saya sadar bahwa perjalanan hidup bisa mengubah cara pandang seseorang.

Kini, dengan status menikah dan punya anak satu, saya tidak bisa membayangkan beratnya menjadi perempuan over thirty, melajang, dan hidup dalam kultur jawa. Telah melewati tahap menikah dan punya keturunan, berarti saya telah melewati syarat syarat yang diperlukan untuk menjadi manusia “normal”. Ingat…normal dalam tanda kutip lho ya…

Walaupun dalam banyak hal, saya pun masih menjalani hidup dalam “kebingungan”. Tidak yakin dengan pilihan diri. Bingung dimana menempatkan diri. Gamang dalam bersikap. But hey…that life is all about kan? Berproses. Kata orang sih hidup itu sendiri adalah a never ending process. Kita berhenti berproses hanya ketika malaikat Izrail bilang : “Hey buddy…its time…”

Maka saya yakin tidak ada orang tua yang tidak kemudian begitu khusyuk berdoa jika mengingat berbagai macam “proses” yang kelak akan di jalani anaknya. Mungkin sepenggal syair legendaris dari Kahlil Gibran berikut ini bisa merangkum apa sejatinya arti seorang anak bagi orang tua yang kadang kita sendiri sebagai orang tua gagal memahami :

Anak Anakmu (Kahlil Gibran)

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.