Day One

Pagi ini bangun bangun habis tidur pasca sahur dan subuhan, ngecek twitter dan mendapati mention reminder #31HariMenulis. Day one.

Jengjeng!!!

Udah lama ngga ngeblog jadi mikir, what am i getting myself into?

Mulanya iseng aja nemu sebuah postingan tentang proyek #31HariMenulis ini. Curiousity kills the cat katanya. Lamat lamat membaca bahwa ini awalnya adalah proyek anak alumni jurusan Komunikasi sebuah universitas ternama di Jogja. Eike yang juga alumni universitas yang sama tapi beda jurusan dan tidak begitu ternama merasa ikut terpanggil dan berpartisipasi walaupun ngga begitu mudeng ini buat apaan sih sebenarnya.

Yang membuat eike tertarik sebenarnya karena kita boleh nulis apa aja. Ngga dibatasi tema. Bolehlah buat motivasi dan pemantik diri ini untuk semangat nulis lagi. Ngga tahu kenapa udah lama letoy buat ngeblog. Lebih suka nulis pendek pendek di status wasap. Eits, jangan salaaah…i take my whatsapp status seriously. They’re like my place to vent all my thought and my anger. To the world. Lebay katamu?? Yak, betuuuul 😄 Lebay is my middle name sodara sodara.

Soòoo…what are we going to write hari ini? How about, betapa kamu ngga tahu mesti bagaimana menghadapi orang orang birokrasi yang sering so blind dengan situasi dan kondisi sekitar dan bergerak dengan landasan asas Asal Atasan Senang?

Atau tentang eike yang sudah setahun belajar dan praktek nyetir mobil manual dan baru sekarang tahu seni nya menginjak gas dan kopling dengan sebaik baiknya, sehormat hormatnya? 😂

Atau tentang isu terkini? Di jaman orang tua mulai mengenal dan dipaksa work from home dan anak anak mengenal dan dipaksa study from home ini, sepertinya banyak hal baru yang bisa diceritakan.

Tentang eike yang sekarang jadi pusat referensi drama koreanya Lintang dan Bapaknya. Dua orang korban kegabutan work from home dan study from home. Bahkan Lintang sekarang sudah fasih nyeletuk ” Daebak!” dan ” Aigoo…”. Dan ibunya ini cuma bisa rolling her eyes dan ngelus dada serta membatin what am i getting my son into??

Pandemi ini membuat kita semua dipaksa beradaptasi. Honestly, i kind of worried seperti apa jadinya Lintang dengan sekolahnya nanti pasca pandemi. Kami, orangtuanya, adalah generasi yang tumbuh besar tanpa mengalami kejadian yang berskala sebesar ini dan berimbas kesemua bidang kehidupan. Kami tidak bisa membayangkan apa efeknya buat dia masa depan.

Membicarakan “kejadian besar” yang pernah kami alami, mungkin yang paling membekas adalah kami sebagai generasi yang mengalami dan menyaksikan sendiri dinamika pra dan pasca reformasi. Kami adalah angkatan 90an yang pernah menyanyikan lagu “Darah Juang” dengan penuh penghayatan di depan Gelanggang, didepan Rektorat dan di aspal jalan Kaliurang 😗😁

Saya tidak mengenal secara personal para penggagas proyek #31HariMenulis ini. Tapi agaknya bukan generasi anak komunikasi yang pernah nongkrong di undak undakan plaza dengan lapangan yang masih berupa tanah di tengah tengah. Bukan pula mereka yang suka memetik buah kresen sambil jalan di jalan setapak samping GKU menuju tempat naik biskota warna oren yang kondekturnya suka reseh minta dilihatin kartu mahasiswa kalau ada yang ketahuan naik bis hanya bersandal 😅

Baeqlah…mohon maap kalau yang ada sempat membaca tulisan hari pertama ini dan kemudian membatin “iki uwopoooooh to” 😅 Maklumlah tulisan ibu rumah tangga forty something medioker yang masih berjuang mempertahankan autentitas diri di tengah gempuran arus mainstream birokrasi. Bekerja di lingkungan birokrasi adalah sebuah perjalanan panjang mempertahankan kewarasan. Menjadi berbeda adalah sebuah perjuangan yang melibatkan kegigihan dan kekuatan mental.

Tapi seperti kata Bude Sumiyati, bolehlah kita yang terkadang sudah terlalu lelah ini untuk tetap bersemboyan :

“Pernah patah hati (dengan birokrasi), tapi tetap bidadari”