Day Two

Hari kedua.

Kalau kemarin adalah semacam mukoddimah, maka hari ini adalah semacam daftar isi 😅.

31 hari bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah komitmen menulis rutin bagi blogger amatir seperti saya. Tapi saya berpegang pada kaidah proyek ini bahwa saya bisa menulis tentang apa saja. Sak unen unen ku 😁. Sehingga kalau di akhir proyek nanti saya bisa khatam secara istiqomah, jangan kaget kalau kaidah tulisannya pun nir kaidah😂.

Hari ini saya ingin menulis tentang lingkungan kerja saya di sebuah instansi pemerintah yang dulu bisa dibilang merupakan salah satu instansi primadona. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan tingkat literasi masyarakat Indonesia, instansi ini seperti terseok seok mencoba tetap bertahan dan relevan dengan perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan manusia.

Awalnya merupakan instansi vertikal, kemudian sekitar akhir 90an ketika pamor instansi ini mulai meredup, muncul undang undang yang memaksa para pegawai tingkat lapangan di instansi ini berpindah status menjadi pegawai daerah. Setelah sekian tahun terlunta lunta dan menjadi anak tiri di pemerintah daerah, pemerintah kembali melirik instansi ini dan menarik para petugas lapangannya kembali menjadi pegawai pusat. Status berganti, tapi relevansi program program instansi ini dengan perkembangan dan situasi jaman masih merupakan hal yang harus diperjuangkan (atau dipertanyakan?).

Instansi apa itu? Biar pembaca yang menebak sendiri.

Saya adalah pekerja kelas akar rumput dalam unit terkecil dalam susunan hirarki kepemerintahan. Kami adalah semut semut pekerja yang berhadapan langsung dengan boss besar birokrasi. Rakyat. Masyarakat. Para wajib pajak yang dari uang mereka kami digaji.

Yang saya ingin saya tulis disini adalah problema general dan klasik saat bekerja dalam lingkungan birokrasi. Mainstream, lamban, prosedural, dan jebakan comfort zone. Saya termasuk generasi transisi. Yang terjebak antara arus budaya birokrat yang mriyayeni, dan generasi yang datang untuk mendobrak tradisi.

Ckckckck…sounds so revolutionary ya…😂

Sebenarnya ngga serius serius amat sih….Cuma kadang kadang saja bikin frustasi. Etapi satu yang saya pelajari dari budaya para pekerja di birokrasi ini, umumnya mereka sangat menjunjung tinggi unggah ungguh dan tatakrama. Hampir tidak ada harapan bagi mereka yang terbiasa misuh misuh dalam melampiaskan dan melepaskan stress dan tekanan beban pekerjaan. Sopan santun adalah yang utama dan pertama dalam lingkungan kerja kami.

Kamu boleh saja bermain culas dibelakang, entah itu korupsi entah kolusi, tetapi yang harus tampak didepan tetaplah kehalusan budi pekerti. Suwer…..mereka yang melihat dari luar pastilah mengira bahwa lingkungan kerja kami pastilah minim konflik. Semua orang behave themselves antara satu sama lain. Harmonis. 😏

That’s why orang orang yang terbiasa berpikiran bebas merdeka akan susah menemukan tempatnya di lingkungan kerja kami. Mungkin masih beberapa dekade lagi sampai budaya kerja kami dapat berangsur berganti. Mungkin nanti ketika generasi millenial dan generasi X lebih banyak mendominasi.