Day Three

Hari ketiga…

Alhamdulillah masih istiqomah. Meskipun sampai saat ini belum pede buat ngetag admin Wiro Sableng di tuiter buat lapor setor tulisan, tapi tetap tertib mengisi google form sebelum jatuh tempo tengah malam 😋.

Hari ini hari minggu, entah sudah hari keberapa setelah geger pandemi. Ketika pemerintah mulai mengeluarkan edaran edaran pembatasan aktivitas sosial. Mereka yang terbiasa menjalani hari ke hari tanpa peduli tanggal atau bulan, pasti kesulitan kalau ditanya sudah berapa lama diam dirumah saja? Bahkan Lintang yang anak sekolahan ketika ditanya ibunya sudah berapa minggu tidak sekolah, harus terlebih dahulu berpikir keras dan greseh greseh membolak balik tanggalan 😊.

Sungguh siapa yang menyangka tahun 2020 bisa se ambyar ini. Rencana rencana yang sudah thirik thirik dari tahun sebelumnya, kocar kacir tak tahu bagaimana nasibnya kini. Kami, yang terbiasa mudik lintas provinsi tentu saja tahun ini harus menahan diri. Tanggal segini biasanya sih sudah booking tiket kereta api. Booking pet hotel buat nitip kucing kucing selama ditinggal pergi. Nyicil beli baju lebaran. Nyicil parcel buat dibagikan ke sodara sodara. Nyicil beli amplop angpao buat persediaan kalau ketemu keponakan. Sungguh tahun 2020 ini kejutannya sangat diluar prediksi.

Kami termasuk beruntung karena termasuk dalam golongan orang orang yang surviving rate nya lumayan tinggi dalam menghadapi pandemi ini. Tinggal di dusun, dekat dengan saudara dan orang tua adalah anugerah nyata dalam masa masa seperti ini. Setidaknya ada perasaan aman bahwa apapun nanti yang akan kita hadapi, ada banyak tangan yang bisa diajak bergandeng tangan. Tangan tangan yang familiar.

Hari hari belakangan ini Simbok saya sibuk membagi bagikan beras buat bingkisan lebaran ke tetangga tetangga. Di usianya yang sudah lebih 70an, Simbok saya masih aktif berdagang. Yaitu segala jenis beras dan gula untuk memenuhi permintaan tetangga tetangga yang umumnya adalah pemilik industri kecil rumahan yang memproduksi makanan khas daerah kami yaitu jenang, wajik dan putu. Tetapi tentu saja frekuensi dan kuantitas nya sangat jauh lebih kecil daripada dahulu ketika dagangan Simbok adalah sumber nafkah utama dalam keluarga kami. Sekarang, bisa dikatakan bahwa Simbok berdagang hanya untuk mengisi waktu luang. Karena semua anak anaknya juga sudah mentas secara finansial dan membina rumah tangganya masing masing.

Saya ingat dulu ketika masih kecil, hari hari menjelang lebaran seperti ini biasanya Simbok sudah menyiapkan bingkisan bingkisan berisi makanan makanan lebaran untuk dibagi bagikan ke sodara sodara dan tetangga tetangga dekat. Saya biasanya diberi tugas keliling untuk membagi bagikan, yang biasanya malam sehabis buka puasa dan sebelum berangkat tarawih ke masjid. Tahun demi tahun berlalu, dan tahun ini Simbok berbagi dalam bentuk beras 5 kiloan. Dan memang dimasa masa sulit ini yang paling dibutuhkan semua orang adalah bahan pangan pokok. Mayoritas orang tidak lagi kepikiran tentang kue dan roti apalagi baju lebaran.

Hantaman pandemi ini sangat terasa juga bagi Simbok. Beberapa langganan produsen makanan kecil disekitar rumah kami tidak lagi berani berproduksi tahun ini. Dikarenakan tidak adanya permintaan pasar. Pedagang pedagang tidak berani berspekulasi karena melihat situasi. Sungguh dampak pandemi di bidang ekonomi itu nyata adanya bagi mereka yang berada ditingkat akar rumput seperti kami.

Saya tidak bisa membayangkan mereka kaum urban yang tinggal di perkotaan. Setidaknya kami yang tinggal di dusun ini, seburuk apapun situasi, masih ada tanaman di sekitar yang bisa dimakan. Setiap keluarga rata rata memelihara ayam, tak terkecuali kami. Safe net kami lumayan lah untuk memenuhi kebutuhan di saat saat darurat. Sedangkan mereka yang yang mencari nafkah dikota dimasa pembatasan sosial seperti ini, apa yang bisa diharapkan? Tidak heran banyak dari mereka tetap berkeras mudik meskipun harus menentang bahaya. Ketika tidak ada lagi sumber penghidupan, maka kembali ke tanah nenek moyang menjadi satu satu nya pilihan.

Mengikuti jejak Simbok, saya juga mencoba berkontribusi dalam situasi sulit ini walaupun berbeda modus operandi. Mungkin hanya sebuah aksi yang sangat kecil dibandingkan banyaknya permasalahan ekonomi di luar sana. Tapi tentu saja kita tidak bisa jika harus mengatasi semua permasalahan di sekitar kita. We got to choose our battle wisely. Jika semua orang fokus untuk membantu dalam satu permasalahan disaat bersamaan maka dampaknya akan kelihatan secara global. Jika setiap orang bergerak untuk berkontribusi dengan kadar kemampuannya masing masing, maka impact nya akan terasa dalam skala besar. Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Dan mungkin tidak ada kesempatan yang lebih baik lagi untuk berbagi, daripada saat masa masa sulit seperti ini.