Day Four

Hari keempat…

Seperti saya bilang di tulisan sebelumnya, betapa beruntungnya tinggal di dusun. Dekat dengan orang tua dan saudara. Saya adalah bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakak saya laki laki. Saya satu satunya perempuan. Dan kebetulan dari empat kakak saya, tiga diantaranya bertempat tinggal satu dusun dengan saya. Hanya kakak saya yang nomer tiga yang berdomisili di luar kota.

Dusun kami relatif aman terkendali dimasa heboh berita corona saat ini. Meskipun disana sini ada yang mengeluh tentang situasi ekonomi, tetapi kehidupan berjalan relatif normal. Disaat dusun dusun di wilayah lain terkena imbas euforia lockdown dan siram siraman disinfektan di setiap gerbang jalan, dusun kami tetap santuy dan tenang. Lek Tulkiyem masih kesawah tiap hari, Lek Jiyo masih angon bebek, Pak Kadus dan Bu Kadus terlihat sedang sibuk panen padi, dan anak anak muda terlihat tiap hari masih berkumpul di pinggir sawah bermain tomprang di kolongan. Business as usual.

Walaupun kadang saya agak cemas, apakah situasi ini merupakan hal yang harus disyukuri atau diwaspadai. Karena bencana pandemi ini mempunyai sifat khusus, kita tidak bisa melihat secara langsung apa yang hendak kita basmi. Covid19 ini bukanlah seperti Gunung Merapi yang tinggi menjulang dan keberadaannya terlihat dari dusun kami. Di tahun 2010, ketika dusun kami ikut terkena dampak dari meletusnya Gunung Merapi, kita tahu jelas dimana dan apa sumber bencana. Tapi sekarang? Ketika katanya bencana bernama virus Covid19 ini bahkan bisa dibawa oleh seseorang yang kelihatan sehat dan normal normal saja? O-te-ge, kata pemerintah melalui penjelasannya di tivi tivi.

Dusun kami cuma agak sedikit oleng ketika terbetik sebuah kabar bahwa ada seorang perantau asal dusun kami yang dikabarkan pulang kampung. “Dari Jakarta”, demikian diantara bisik bisik tetangga dengan ekspresi serius seolah sedang membocorkan rahasia negara. Tapi itupun tidak berlangsung lama. Si pemuda perantau sudah mengkarantina diri secara mandiri. Bisik bisik dengan muka serius dan ekspresi cemas akhirnya menghilang dengan sendirinya.

Memasuki bulan puasa ini, masjid dan langgar di dusun kami tetap menyelenggarakan jamaah sholat tarawih seperti biasa. Walaupun tidak seramai di hari hari normal, beberapa warga tetap berjamaah di masjid seperti tidak ada kejadian apa apa. Seakan akan himbauan pemerintah di banyak media massa untuk beribadah di rumah saja, adalah sesuatu yang hanya perlu didengar, tetapi tidak untuk dilaksanakan.

Ada satu masjid dan tiga langgar di dusun kami. Sebelum bulan puasa, ketika pandemi sudah merebak, masjid kami tetap melaksanakan sholat jumat. Warga dusun kami mayoritas adalah warga NU. Tak terkecuali saya dan keluarga saya. Jamaah tarawih di dusun kami sudah umum dilaksanakan 23 rakaat. Jamaah subuh sudah pasti dengan qunut. Dan setiap malam jumat pasti mengaji Yasinan. Wirid panjang pasca jamaah subuh dan jamaah maghrib is the must. Warga non NU pasti stand out di lingkungan dusun kami. Hampir selalu mudah dideteksi. Tapi itu bukan masalah didusun kami. Seperti dalam hal pandemi, dalam banyak hal secara umum, warga dusun kami adalah orang orang yang santuy. Kalaupun ada sedikit riak riak, biasanya hanya berakhir dalam bisik bisik skala kecil. Tidak sampai membesar menjadi sesuatu yang layak di beritakan secara regional maupun nasional.

Meskipun begitu, beberapa hari yang lalu terdengar pengumuman dari pengeras suara salah satu langgar yang menyiarkan bahwa mulai minggu ini dusun kami akan di berlakukan jam malam. Akan dipasang sebuah portal di jalan perbatasan yang menghubungkan dusun kami dengan dusun tetangga. Demi keamanan bersama. Demikian pengumuman dari pengeras suara itu menjelaskan.

Beberapa saat setelahnya, saya lihat di grup wasap dusun, postingan tentang merebaknya kejadian kriminalitas di sekitar daerah kami. Konon kabarnya beberapa kasus pencurian dan pembegalan telah terjadi di wilayah kecamatan tetangga. Di lengkapi dengan gambar gambar yang tampaknya juga ramai beredar di grup grup “cegatan” facebook. Beberapa waktu kemudian anggota wasap yang lain juga memposting gambar tentang ditegakkannya kembali sistem siskamling di dusun kami. Pos ronda mulai bergeliat kembali yang ditandai dengan jadwal piket bagi warga berjenis kelamin lelaki. Ah….dusun kami adalah dusun yang selalu cepat tanggap dalam segala situasi.

Itulah sekelumit tentang dusun dimana saya tinggal. Dusun dimana saya lahir dan dibesarkan. Dan insyaAllah akan menjadi tempat saya menua bersama keluarga. Dusun dimana jika engkau menyusuri jalan aspalnya agak sedikit keselatan, maka diarah utara akan terlihat dua gunung menjulang tinggi. Merapi dan Merbabu.

Semoga tetap aman terkendali wahai dusunku…jangan sampai kita dipaksa menyerah kalah oleh pandemi ini…💪💪💪